<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/283894426242110791?origin\x3dhttp://triirhan.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Circle to Universe

feel fun, think positive, do great !

Remedial VS Blogging

2009/02/03

“Bener nih Lin, remednya gak jadi hari ini ?” tanyaku untuk meyakinkan. “Iya katanya sih gitu, tadi Dion udah nanya Bu Indah.” Jawab Lina. “Trus kapan?” balasku masih ingin tau. “Ga tau juga tuh, katanya malah….kapan-kapan aja.” Kata Lina sambil mengernyit. “Lho, kok kapan-kapan aja?!” protesku. “…..” “ Ya udah deh, gue pulang aja.”

Huuh !! bête banget sih! Aku kan udah belajar semaleman buat remed hari itu. tau gitu mah mendingan aku ngeblog aja kemaren. Aku marah-marah sendiri saat menelusuri koridor sekolah. “Rhan! Rhani!” aku menengok. “Lu mau pulang? Hari ini ga jadi remed kan?” Tanya Agnes yang juga kena remed. “Udah ga usah! Pulang aja yuk pulang.” Gris ikut-ikutan menimpali. “Yee, enak aja lu ngomong!” kataku kesal. “Lagian, remed ga kesampean mulu.” Gris membalas. “Jangan salahin gue dong! Bu Indahnya tuh ! diundur-undur mulu.” Aku jadi jutek. “Iye, nanti gue ngomong sama Bu Indah. Bu, gimana ini remednya ga jadi-jadi melulu?!” gris berakting seperti Kepsek. “Hahaha! Iya iya mirip.” Aku ketawa juga. “Yaudah Nes, gue pulang aja. Ga jadi remed kok. Lu juga pulang. Nanti, misalnya kalo jadi remed, gue ga sendirian yang pulang duluan. ha ha ha” “Gih, sana pulang!” Dasar si Gris.
Keesokkan harinya….
“Rhan! Kemaren jadi remed! Eh, tapi lu tanya temen-temen remed lu aja dulu.” Kata Gris ketika aku bertemu dengannya. “Ah, bohong lu!” “Bener! kemaren Agnes balik lagi ke sekolah, trus dia remed.” Walaupun Gris suka bergurau, tapi baru kali itu aku melihat tampang Gris yang berkata jujur.
Aku langsung melesat menaiki tangga menuju ruang sejarah. Belum aku masuk kelas, Agnes sudah berada disana. “Rhan, sorry ya. Kemaren tuh ternyata jadi remed. Gue ga tau gimana caranya menghubungi lu, gue kan ga bawa hp.” Hah!! Gue syok berat, bener-bener syok! “Tapi yang laen pada bilang ga remed!” kataku lirih. Agnes pasti bisa melihat ekspresi kecewaku. “Kemaren gue ke warnet dulu. Pulang-pulangnya, gue kan masih belum percaya tuh remed atau enggak. Trus gue ketemu Aya di depan gerbang, gue tanya-tanya, trus dia jawab Lina dan anak-anak lagi pada remed. Gue langsung aja buru-buru ke kelas, gue aja sampe telat setengah jam…sorry Rhan, kalo gue bawa hp, kalo gue tau nomer hp lu, pasti gue bilang lu.” Agnes menjelaskan dengan penuh prihatin. Aku udah ga bisa berkata-kata lagi. Pagi-pagi udah lemes begitu. Duduk di bangku, aku kembali teringat perjuanganku meminta-minta remed, tunggu sini tunggu sana, rela menunggu Bu Indah menyelesaikan tugasnya, yang pada akhirnya remedial diundur juga, lagi dan lagi. Aku jadi sebel sama Bu Indah!
Pembagian rapor midsemester…
Aku ga kaget kalau nilai kimia ga tuntas. “Cit, kalo mau ikut PMDK, nilai midtes ini ngaruh ga ?” “Ya nggak lah, ih, males dah gue kalo sampe ngaruh.” Kata Citra yang nilainya tuntas semua. Jadi, Cuma ada 6 orang di kelasku yang nilai kimianya ga tuntas. Tapi dilihat-lihat, nilaiku masih lebih tinggi dibanding yang lain. Pasti itu karena penjumlahan banyak nila remedial. Haha, aku udah jadi langganan remed kimia sejak kelas 10.
Beberapa hari kemudian saat pelajaran fisika….
“Bagi seorang blogger, ada lomba blogging berhadiah 5 juta rupiah!” Pa Rian memberi pengumuman. Wah! Blogging nih? Kesempatanku unjuk gigi, kalo emang balum bisa ikut segala lomba berbau sains, kenapa enggak mencoba bidang yang aku kuasai. Pak Rian sendiri pernah bilang, “Kecerdasan seseorang itu tidak diukur oleh besarnya nilai IQ. Perlu kalian ketahui ada banyak macam kecerdasan, dan setiap orang pasti memiliki salah satunya. Jadi, tidak hanya yang pintar sains itu yang cerdas, mereka yang misalnya ahli dalam bidang visual atau literatur juga bisa dibilang cerdas.”
“Rhani, lu punya blog kan? Ikut gih.” Rifa menyadarkanku dari lamunan. “Ehh,,iya.” Kataku simple. Kok sepertinya ga ada yang berminat ya, bahkan ga semua anak dikelasku tau blog itu buat apa. Tapi aku akan tetap berusaha, walaupun sendirian. “Temanya itu tentang lingkungan hidup. Kalau mau membuat tim, ya silahkan. Lombanya nanti tanggal 25 November, bagi yang berminat segera melapor ke Bapak. Nanti Bapak kasih tau persyaratannya. Oke.”
Nasihat Pak Rian membangkitkan semangatku lagi, tadinya aku mau berhenti main blog dulu untuk nilai kimiaku. Tapi ini kesempatanku. Tapi sama siapa aku harus kerjasama.. untuk pertama kalinya kelasku sunyi sepi saat diumumkan ada lomba, cuma satu atau dua orang yang bertanya gimana caranya menjalankan blog. Oo, jadi temen-temenku ini jagonya bidang sains, tapi bukan berarti kita ga bisa mempelajari hal lain yang ternyata juga menyenangkan kan.
Tapi aku ngajak siapa dong ?
Oiya ! kan ada Kak Arif ! si jago TIK. Aku ngajak dia ah.
Kak Arif adalah teman friendsterku. Dari percakapaan kami di friendster, aku jadi tau kalau dia satu sekolah denganku. Tapi lucunya, sudah lama kami berkomunikasi lewat friendster, kami belum saling ketemu juga. Aku udah tau dia, tapi serunya, dia belum tau aku. Aku senang menjadi teka-teki untuk orang lain.
Di rumah saat online…
Nyalain komputer, masuk ke internet explorer, buka blog, buka FS juga. Di depan blog,… aku bengong…ga ada inspirasi untuk apa yang harus aku tulis. Waduh ! gara-gara keseringan mikirin remedial, kreativitasku jadi terhambat, inspirasi jadi terhalang masuk. Di depan FS….jam segini Kak Arif belum online. Kembali ke jendela blog,…yak, aku liat-liat iklan. Klik sana klik sini, klik…kok lama…lah, kok jadi hang… argh ! aku offline aja.
Online lewat ponsel….
Jadi, Aku dan Kak Arif punya minat yang sama. Itu mengapa selama ini kami saling akrab walau hanya berkomunikasi lewat dunia maya. Aku beruntung bisa punya teman online seperti dia, yang banyak membantuku lewat pesan elektronik semata.
Aku kirim message….
Kak, aku punya brosur lmba blog, mau ikud ga ? Lmba`a tgl 9 nov, tema.a humor tp kok bda sma yg pa rian bilang . kyk`a lmba`a bda deh.
Aku terima message…..
Lmba blog? mau dong. Emang prsyaratn`a apa ja. Bsog pulng skul qta ktemu d kantin ya, kk mo liat brosur`a.
Keesokan harinya di sekolah…
Beres. Baru kali itu dalam catatan kelas 11 –ku, aku ga sibuk ngerjain pr pagi-pagi. Semua itu udah kurencanakan, supaya aku bisa langsung ketemu Ka Arif pagi itu juga. Karena pulang sekolah nanti, aku harus menghadapi tes TOEFL. Tes resmiku ini akan membantuku mencari perguruan tinggi nanti, bahkan bisa membawaku belajar di luar negeri. Sambil piket, aku nunggu-nunggu di depan kelas, kebetulan kelas kami bersebelahan hari itu.
Beberapa menit kemudian …..
Nah, itu dia Kak Arif. Aku menghampirinya “Kak Arif ya ?” sapaku. “iya.” jawabnya bingung. “Aku bawa brosurnya tuh.” Kataku sambil terkikik. Aku ingin tau, dia sadar ga aku ini teman onlinenya selama ini. “Idih,…Rhani ya ? ha ha ha.” Kami pun saling nyengir geli.
Ternyata Kak Arif malah ikut Sciene Party di IPB, waktunya mepet banget, dia sibuk untuk focus hanya pada lomba TIK yang ia ikuti. Jadi, kami ga bisa menjadi satu tim. Apalagi tahun depan ia akan menghadapi UN, ga seharusnya aku merepotkannya.
Perjuangan ….
Sampai di rumah, aku langsung mamulai perjuanganku di depan kertas dan desktop. Ck ck ck, aku ga bisa mengingat hal lucu apa yang pernah kualami. Aku ini penikmat humor, bukan pencipta humor, jadi aku jarang menemukan kejadian yang sampai sekarang membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Hal lucu apa yang bisa membuat seorang Raditya Dika tertawa geli..?!
Aku beralih ke kertas, inspirasi,…inspirasi,…ayo dataaang..! ahh! Aku buat aja curhatan remedialku, tinggal aku ubah menjadi lebih dramatis dengan klimaks-klimaksnya. Mudah-mudahan aja Dee Lestari ga bosen baca cerpenku.
Aku menyelesaikan cerpen itu semalam suntuk lalu mengirimnya lewat e-mail, tinggal blogku yang belum kena sentuhan inspirasi sama sekali. Waduh ! efek sampingnya, aku ga punya cukup waktu untuk persiapan remedial keesokan harinya. Badanku pegal-pegal, kepalaku juga terasa berat. Aku langsung tersungkur di atas tempat tidur. Zzzz…
Remedial…
“Rhan, nanti remedialnya abis pelajaran OR.” Rosi memberitahuku. “Walah! Kirain pulang sekolah nanti. Lu belajar bab 2 doang kan.” Tanyaku seperti orang kebingungan. “Iya. Eh, kenapa mata lu bengkak gitu ? abis nangis ya.” “Enggak, gue cuma kurang tidur aja.” Kataku simpel.
Selepas ganti baju, aku kembali belajar kimia. Dipikir-pikir, capek juga kalau harus remed melulu, kayak menghadapi ulangan terus-terusan. Tapi, aku kan ga minta remed ! aku udah belajar maksimal, gurunya aja yang pelit nilai.
‘Lho Mel, kok lu baca bab satu sih ?” tanyaku dengan hati mencelos. “Iya, nanti keluar di soal remed.” Jawab Amel dengan malas, masih fokus membaca. “Yaah, gue belum baca lagi nih !” aku kalang kabut membolak-balik halaman buku dengan struktur atom yang semrawut. Beberapa menit lagi, remed dimulai.
Ternyata benar ! soalnya malahan lebih banyak diambil dari materi bab satu. Uhh! Dasar tuh guru ! janjinya kan mau ngasih soal dari bab dua. Mati deh gue, yang lain udah pada selesai dalam waktu 30 menit. Bisa-bisa remed lagi nih.
“Ayo cepat, cepat ! waktunya udah habis ! ayo neng, kumpulin kertasnya.” Bu Indah menghampiri dan mengambil kertas remedku. Hanya kasih sayang lebih dari Allah yang bisa menyelamatkanku dari remed yang kedua kalinya.
Berjuang kembali…
Bagaimanapun juga aku berhak merayakan terbayarnya hutang remedialku. Maka aku kembali bergelut dengan blogku.
Tik tok tik tok….krik krik krik…zzzz…AHA !! woohoo ! cerita nyata ya? Dapat! Percikan inspirasi.
Tiba-tiba mama datang, “Kok main komputer melulu sih nak?” “Iya dong mah, aku ini lagi berjuang untuk sukses.” Kataku meyakinkan. “Jangan lupa belajar ya.” Kata mama dengan tegas. “Ok, aku kan juga ngejar-ngejar PMDK. Mama juga doain supaya Bu Indah terketuk hatinya biar ga pelit nilai sama aku.”
Naskahnya aku post, aku copy untuk dikirim melalui e-mail, beres deh! Tanpa beban pikiran, aku meluncur ke situs template blog. Niatnya sih, mau ganti template, tapi nyatanya… aku malah…kejebak di template yang….eror punya..! panik ! panik !
Setengah jam itu kuhabiskan untuk membetulkan blog, tapi yang ada malah komputerku hang ! aku coba restart lagi,..saat aku buka blogku, tampilannya masih eror ! beberapa menit kulalui dengan emosi… stress … sedih…. mataku tertuju pada layar blog, keringat mulai menetes. Apa yang harus aku lakukan …? Waktu terus melayang menuju tengah malam. Aku harus cepat mengambil tindakan.
Dengan tulusnya aku memutuskan untuk membuat blog baru. Selamat tinggal blogku sayang…. Mau ga mau, aku harus. Argh ! kenapa aku begitu ceroboh ?! baru aja aku merasa lega, muncul lagi masalah. Atau mungkin saat itu dewi fortuna sedang offline dari internet..?
Lagi dan lagi aku lembur semalaman. Semoga besok aku mendapatkan nilai baik untuk remedku, walaupun aku ga yakin. Tapi karena aku belum belajar lagi, maka aku cuma bisa berharap yang terbaik.
Akhirnya selesai juga berurusan dengan blogku yang rentan terhadap virus web. Sebelum keluar dari internet, aku mengecek inbox e-mailku, siapa tau udah ada pengumuman hasil tes TOEFL. Aku memang sering gagal dalam berkompetisi, tapi aku yakin dengan kemampuan berbahasa inggrisku. Jeng jeng jeng…..
WOW ! WHOAAAA! YA ALLAH ! beneran niehh ??!!! aku dapet nilai segitu ??! NILAI TOEFL KU 512 !!!!!! aku lantas menangis. Kabahagiaanku mendapatkan nilai TOEFL yang menakjubkan itu membuatku rela menerima kesulitan apapun lagi. Aku ga nyangka hal ini terjadi pada seorang anak perempuan yang menimbulkan masalah untuk dirinya sendiri. Sepertinya, hal itu ga sebanding dengan cobaanku sebagai seorang pelajar yang kena remed kimia malulu, atau yang karyanya ga jadi-jadi. Tapi itulah kasih sayang-Nya.
Aku juga dikirim pesan yang berisi pilihan universitas di dunia beserta persyaratan masuknya. Secara garis besar, aku menyimpulkan bahwa nilai sains juga mempengaruhi. Waduh, aku kan ga bisa akrab dengan kimia…
Suka dan duka….
Keesokan harinya di sekolah. “Rosi, lu dapet 80 buat nilai remed lu. Si Dion dapet 90 tuh.” Kata Adam yang tidak lain adalah anak dari seorang guru yang selalu membuatku menatap begitu banyak soal-soal remedial. Adam selalu mendapat nilai 100 untuk ulangan kimianya ! walaupun aku ini bukan anak Bu Indah, aku harus bisa bangkit dan berhasil mendapat nilai tinggi untuk kimia.
Aku ga perlu tau berapa nilaiku, aku langsung menuju ruang guru. Saat istirahat, semua guru ada di mejanya. Aku melihat di sana ada Bu Indah, tampak sibuk dengan banyak tumpukan dokumen di mejanya. Aku harus bisa merayunya untuk memberiku remed lagi.
Mendekat ke mejanya, ternyata dia sedang mennganalisa buku nilai murid. Aku ga perlu mengatur ekspresi dan mimikku, karena aku udah mendapatkan chemistry alami “Ibuu, kasih saya remed lagi dong, nilai saya masih kurang bu.” Kataku lirih, Bu Indah tetap sibuk dengan kertas-kertasnya. Dengan tampang terganggu, dia melihat ke arahku “kamu yang ikut remed dari kelas XI IPA 1 itu kan yah? Coba ibu liat dulu nilai kamu.” Dia mulai membolak-balikan halaman mencari namaku. “Liat nih, nilai kamu emang belum tuntas.” Dia menyodorkan buku nilai itu padaku dan mulai berdiri membelakangiku, dia kembali sibuk dengan urusannya sendiri.
Aku memandangi deretan nilai paling madesu di kelas XI IPA 1, yang adalah nilai milik Rhani Handayani. Seolah-olah kehilangan satu mimpi, aku bertekuk lutut disebelah mejanya. Dengan putus asanya aku memohon lagi kepada Bu Indah. Dengan negosiasi apapun, dia tetap menanggapinya tanpa peduli, “Yang penting kamu harus lebih aktif di kelas, maju ke depan mengerjakan soal di papan tulis. Nanti juga kamu dapet nilai lebih.”
Aku ga percaya Bu Indah sekejam itu. aku ga tau harus ngomong apalagi, katanya kalau kita keras kepala di depan guru, kita bakalan lebih kena masalah. Saat airmata ga bisa kutahan lagi untuk menetes, “Gitu ya bu? Yaudah, makasih ya bu.” Dan aku langsung keluar mencari tempat untuk melampiaskan kesedihanku, di toilet.
Mungkin nanti, aku akan mendapatkan keberuntungan yang tak terduga lagi. Kurasa hidupku tidak ditentukan oleh pelajaran kimia. Aku akan mengumpulkan sebanyak mungkin prestasi lain. Jika aku yakin dengan karya blog dan cerpenku itu, aku akan menang !





Label:

posted by Snow on Blue SAKURA, 3:13 AM

0 Comments:

Add a comment